Jawa


Tradisi Wisit

Di daerah Pati Jawa Tengah, pada saat hari raya Idul Fitri ada sebutan atau istilah yang hanya berlaku di daerah itu yaitu "Wisit". Wisit adalah uang yang diberikan kepada anak-anak ketika mengucapkan selamat hari raya idul fitri kepada orang tua pada hari suci itu. Jumlah uangnya tidak cukup banyak tapi hanya cukup untuk uang jajan saja. Oleh karena itu orang-orang tua di Pati sengaja menyiapkan uang receh yang cukup untuk memberikan wisit pada anak-anak pada saat anak-anak berkunjung ke rumah kaum tua untuk mengucapkan selamat hari raya. Kebiasaan ini sudah menjadi kebiasaan di Pati dan tidak jelas kapan mulainya. Semula pemberian wisit itu hanya terbatas untuk lingkungan keliarga besar diberikan kepada yang masih anak-anak. Tetapi kemudian berkembang meluas. Bahkan yang paling banyak adalah anak-anak yang tidak memiliki hubungan kekeluargaan berbondong-bondong datang berkunjung ke orang-orang tua sambil mengucapkan "Selamat Idul Fitri" kemudian mereka menerima uang dari orang-orang tua yang telah mereka kunjungi. Anak- anak seusia sekolah SD ini biasanya dengan rajin berombongan mengunjungi orang-orang tua dari ujung Barat sampai ujung Timur, dari pagi sampai petang. Akhirnya mereka yang rajin dengan tersenyum puas merogoh kantongnya yang sudah penuh dengan uang.




  
 Yakarrim

Lain di Pati, lain juga di Semarang. Di Semarang tidak ada istilah wisit, namun di Semarang ada istilah "Yakarrim". Yakarrim adalah perkataan yang diucapkan ketika mengunjungi orang yang lebih tua pada saat hari raya Idul Fitri. Dari tuan rumah ia mendapat satu atau dua genggam beras. Mereka datang hanya dengan ucapan Yakarrim dan tidak ada ucapan lain, biasanya tidak masuk ke dalam rumah melaink`n hanya di depan pintu. Setelah diberi segenggam beras, lalu mereka pergi dengan mengucapkan terima kasih. Orang-orang yang melakukan yakarrim ini umumnya orang dewasa. Ada pula anak-anak, anak mereka, mendapat jatah yang sama: segenggam beras. Maka para pelaku yakarrim ini tentu dilengkapi dengan kantong kain atau wadah yang lain untuk menampung beras yang diberikan pada waktu mereka berpindah satu rumah ke rumah lain. Datangnya biasanya secara berbondong-bondong. Yang rajin ternyata satu orang bisa mengumpulkan beras puluhan kilo. Dengan iklim berbisnis yang semakin maju ini cara yakarrim ada juga yang mengorganisir. Sehingga dipos-pos tertentu berkumpul para pelaku yakarim mengumpulkan hasil beras yakarim……. berkarung-karung beras terkumpul dari pagi sampai petang. Yang paling beruntung adalah pengepool beras hasil yakarrim ini yang tentu membeli beras itu dengan harga yang sangat murah.

Tradisi “wisit” di Pati dan “yakarrim” di Semarang ini adalah tradisi yang baik. Artinya halal dan tidak nistha (memalukan). Ini adalah pengembangan sikap peduli dan semangat mau berbagi kepada sesama yang membutuhkan yang tidak lain adalah ajaran kepedulian social yang tinggi. Moment yang berjalan setahun sekali dan dilaksanakan pada Hari suci itu tentu tidak ada orang yang mengatakan ‘mengemis cara halus’.

Namun dasar sikap orang yang ingin jalan pintas dan memanfaatkan peluang, Ada juga sekalipun ia memiliki tingkat ekonomi bukan tingkat rendah tetapi melakukan juga kegiatan yakarrim setahun sekali!